Sabtu, 13 Agustus 2016

[My story] Mengapa ingin menjadi seorang Dokter?

INI TENTANG PILIHAN
Mengapa ingin menjadi seorang Dokter?
Hai, nama ku Rivha Ramadhanty. Aku lahir di tembilahan, 19 Januari 1998. Ayah ku adalah seorang pegawai kantoran dan buku adalah seorang perawat yang bekerja di salah satu puskesmas yang ada di Inhil, Riau. Aku adalah anak tunggal. Ya.. Sendiri hanya sendiri. Aku pernah mengenyam pendidikan di SD 001 kh. Mandah, MTsN 094 Tembilahan, SMAN 1 Tembilahan Hulu. Alhamdulillah, di tahun 2016 ini aku memasuki bangku kuliah. Bukan hal yang tidak direncanakan, aku lulus di perguruan tinggi negeri yang aku ingin kan yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

Mengapa ingin menjadi seorang dokter? Sudah sanggupkah menghabiskan waktu di kampus? Sudah sanggupkah membaca buku yang tebal? Sudah  sanggupkah menghabiskan masa dewasa hanya untuk belajar dan terus belajar? Sudah sanggupkah dalam mengahadapi resiko yang ada? Sudah mampukah  bertanggung jawab terhadap nyawa seseorang? Bismillahirrahmanirahhim, dengan meluruskan niat maka semua akan berjalan sebagai mana yang diusahakan. 

'Dokter' adalah gelar yang  di idamkan oleh kebanyakan orang. Menurut ku, gelar dokter bukanlah suatu hal yang menjadi tujuan utama hidup ku, melainkan ilmu nya lah yang menjadi keinginanku. Dokter bukan semata karena ingin mendapatkan status sosial, kekayanam, jabatan, dan kekuasaan. Namun, menjadi dokter adalah suatu panggilan nurani. Panggilan yang membawa jiwa ingin menyelamatkan kehidupan. 
Kita di masa depan adalah orang yang memiliki pekerjaan membanggakan.
Suatu pekerjaan yang sempat menjadi cita-cita banyak orang. Warna seragam kita nanti sudah menunjukkan betapa mulia dan berharganya aktivitas kita dan siraman warna putih itu telah membuat semua orang dengan rela menyandarkan kepercayaan pada kita”
(eko prasetyo dalam “orang miskin dilarang sakit”, resist book 2004, dengan sedikit perubahan)

Jika anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang anda.
Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah
Daripada anda harus mengorbankan pasien dan keluarga anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar anda hanya agar anda terkesan paling berharga.

Jika anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan bmw keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, insya Allah saya bantu pembayarannya.”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan. Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…


Aku telah diberikan titah untuk menjadi sorang dokter. Aku telah berjanji untuk mempertaruhkan hidupku untuk menyelamatkan umat manusia. Kesehatan dan kehidupan pasien ku adalah prioritas utamaku. Aku akan melaksanakan tugas ku dan menyelamatkan pasien ku. Tanpa memandang Ras, Agama, atau Kebangsaan. Aku tak akan melepaskan tanggung jawab ku. Bahkan saat aku berada dalam ancaman. Aku telah menerima sumpah ini dan menjadi hidupku dan atas nama kehormatanku. (dots 2016)


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2016 Princessea | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top