Mengapa ingin menjadi seorang Dokter?
Hai, nama ku Rivha Ramadhanty.
Aku lahir di tembilahan, 19 Januari 1998. Ayah ku adalah seorang pegawai
kantoran dan buku adalah seorang perawat yang bekerja di salah satu puskesmas
yang ada di Inhil, Riau. Aku adalah anak tunggal. Ya.. Sendiri hanya sendiri.
Aku pernah mengenyam pendidikan di SD 001 kh. Mandah, MTsN 094 Tembilahan, SMAN
1 Tembilahan Hulu. Alhamdulillah, di tahun 2016 ini aku memasuki bangku kuliah.
Bukan hal yang tidak direncanakan, aku lulus di perguruan tinggi negeri yang
aku ingin kan yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Riau.
Mengapa ingin menjadi seorang
dokter? Sudah sanggupkah menghabiskan waktu di kampus? Sudah sanggupkah membaca
buku yang tebal? Sudah sanggupkah menghabiskan masa dewasa hanya untuk
belajar dan terus belajar? Sudah sanggupkah dalam mengahadapi resiko yang ada?
Sudah mampukah bertanggung jawab terhadap nyawa seseorang?
Bismillahirrahmanirahhim, dengan meluruskan niat maka semua akan berjalan
sebagai mana yang diusahakan.
'Dokter' adalah gelar yang
di idamkan oleh kebanyakan orang. Menurut ku, gelar dokter bukanlah suatu hal
yang menjadi tujuan utama hidup ku, melainkan ilmu nya lah yang menjadi
keinginanku. Dokter bukan semata karena ingin mendapatkan status sosial,
kekayanam, jabatan, dan kekuasaan. Namun, menjadi dokter adalah suatu panggilan
nurani. Panggilan yang membawa jiwa ingin menyelamatkan kehidupan.
Kita di masa depan adalah
orang yang memiliki pekerjaan membanggakan.
Suatu pekerjaan yang sempat
menjadi cita-cita banyak orang. Warna seragam kita nanti sudah menunjukkan
betapa mulia dan berharganya aktivitas kita dan siraman warna putih itu telah
membuat semua orang dengan rela menyandarkan kepercayaan pada kita”
(eko prasetyo dalam “orang
miskin dilarang sakit”, resist book 2004, dengan sedikit perubahan)
Jika anda ingin menjadi dokter
untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang anda.
Mungkin fakultas ekonomi lebih
tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah
Daripada anda harus
mengorbankan pasien dan keluarga anda sendiri demi mengejar kekayaan.
Jika anda ingin menjadi dokter
untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan,
maka silahkan kembali ke mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di
sana. Daripada anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di
sekitar anda hanya agar anda terkesan paling berharga.
Jika anda ingin menjadi dokter
untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin
lebih baik anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan anda sehingga
menjadi artis pujaan para wanita. Daripada anda bersembunyi di balik topeng
klimis dan jas putih necis, sementara anda alpa dari makna dokter yang
sesungguhnya.
Dokter tidak diciptakan untuk
itu, kawan.
Memilih menjadi dokter bukan
sekadar agar bisa bergaya dengan bmw keluaran terbaru, bukan sekadar bisa
terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga
terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan
busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering
mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan
seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.
Memilih jalan menjadi dokter
adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam
tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.
Memilih jalan menjadi dokter
adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang,
mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita
karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena
demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita
menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, insya Allah saya bantu
pembayarannya.”
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut
rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau
diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”
Memilih jalan menjadi dokter
adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan
komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum
kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati
nurani saya”
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah
dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang.
Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat
dan dinginnya malam.
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan
kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang
senantiasa kita perjuangkan. Memilih menjadi dokter adalah memilih
jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…
Aku telah diberikan titah untuk
menjadi sorang dokter. Aku telah berjanji untuk mempertaruhkan hidupku untuk
menyelamatkan umat manusia. Kesehatan dan kehidupan pasien ku adalah prioritas
utamaku. Aku akan melaksanakan tugas ku dan menyelamatkan pasien ku. Tanpa memandang
Ras, Agama, atau Kebangsaan. Aku tak akan melepaskan tanggung jawab ku. Bahkan saat
aku berada dalam ancaman. Aku telah menerima sumpah ini dan menjadi hidupku dan
atas nama kehormatanku. (dots 2016)


0 komentar:
Posting Komentar